Sabtu, 02 Oktober 2010

Handphone Ramah Lingkungan Sony Ericsson Cuma Rp899 Rb!



SONY ERICSSON
Sony Ericsson Cedar menggunakan material plastik daur ulang, cat berbasis air, demi ramah lingkungan.


Isu lingkungan memang menjadi agenda tetap sejumlah vendor papan atas, khususnya dalam hal penggunaan material ramah lingkungan. Meskipun tak semua produk memakai material serupa. Namun, upaya untuk mengemas produk-produk seperti ini boleh diacungi jempol. Sony Ericsson, misalnya, yang mengampanyekan "GreenHeart". Pemakaian material plastik daur ulang yang lebih ramah terhadap lingkungan dikenakan. Seperti yang dipakai pada seri Sony Ericsson Cedar.
Meskipun memakai material khusus, tetapi harga yang dipatok hanya Rp 899.000. Ramah lingkungan juga diwujudkan dalam bentuk cat yang menggunakan media air, charger berkekuatan listrik yang rendah, juga kotak pembungkus yang lebih kecil untuk mengurangi pemakaian kertas.
Sementara itu, fungsi ponsel ini—meski desainnya terkesan seperti sebuah ponsel low end—berupaya untuk mengikuti kebutuhan konsumen yang tetap menjadi prioritas. Umpamanya tetap menghadirkan fitur jejaring sosial dan push e-mail. Demikian pula dengan jaringan yang dipakai, bukan sekadar GPRS, melainkan HSDPA. Bahkan, tugas ponsel ini bisa bertambah menjadi sebuah modem eksternal.
"Dengan fitur 3G HSDPA, jack 3,5 mm, dan port microUSB untuk koneksi mudah ke laptop Anda, Sony Ericsson Cedar memudahkan konsumen terhubung dengan komunitasnya, apakah untuk bekerja, bersenang-senang ataupun bermain," ujar Djunadi Satrio, Head of Marketing Sony Ericsson Indonesia.
Fitur lain yang bisa dianggap sebagai kelebihan adalah sebuah Widgets Manager 2.0. Fitur ini memberi peluang kepada pengguna untuk mengeset fitur ataupun aplikasi ke dalam widget sesuai keinginan. Sedangkan browser internetnya memakai Netfront 3.5.

Sumber : Kompas

Ditemukan Kapal Kuno Berumur 1500 Tahun Sebelum Masehi! (+Video)

Percaya tak percaya. Sebuah kapal laut yang diperkirakan berusia 3.500 tahun ditemukan di dasar Laut Hitam, laut dalam yang terletak di antara Eropa Tenggara dan Asia Kecil.

Meski tak nampak utuh, namun dari video yang dilansir National Geographic, kapal Romawi itu kelihatan kuat dan kokoh. Kapal itu ditemukan sejumlah arkeolog Robert Ballard beserta timnya yang secara tidak sengaja di dasar Laut Hitam.

Dari kajian fisik dan arsitektur kapal tersebut, Robert dan beberapa rekannya menyimpulkan bahwa kapal tersebut dulunya dipakai serdadu Romawi untuk berperang.

"Ini sangat menakjubkan. Meski budget kami minim, dengan teknologi yang kami punya, kami akan mengangkat kapal tersebut ke permukaan dan mengeksplorasi isi dan kandungannya secara lebih mendalam dan detail," kata Ballard, yang dikutip National Geographic, Jumat 1 Oktober 2010.

Klik disini untuk lihat Videonya.

Laut Hitam memang menyimpan banyak misteri. Inilah yang memikat ilmuwan di dunia, terutama arkeolog. Sebelumnya, ilmuwan Inggris juga menemukan sebuah sungai raksasa di dasar laut yang sama. Bahkan, katanya sungai itu layak dinobatkan sebagai sungai terbesar keenam di dunia.


Laut Hitam terbentuk karena masukan air laut melalui Bosporus sekitar 200km kubik tiap tahunnya. Masukan air tawar itu berasal dari wilayah sekitar, terutama Eropa Tengah dan Timur-Tengah, dengan jumlah total 320km kubik per tahun. Laut ini memiliki wilayah 422.000 km persegi dan kedalaman maksimum 2.210 m.

Adapun negara-negara yang berbatasan dengan Laut Hitam adalah Turki, Bulgaria, Romania, Ukraina, Rusia, dan Georgia.

Sumber: VIVAnews.com


Para ilmuwan baru-baru ini menemukan planet 'kembaran Bumi' yang berada di luar tata surya. Namanya, Planet Gliese 581g. Nama lain yang kendengarannya lebih indah adalah 'Dunia Zarmina'. Penemuan itu merupakan hasil pengamatan selama 11 tahun oleh para ilmuwan dari berbagai negara.

Para ilmuwan itu tidak cuma menemukan Dunia Zarmina, tapi juga menemukan adanya sinyal misterius yang dipancarkan dari planet yang kemudian disebutkan sebagai planet kembaran bumi itu.

Adalah Dr Ragbir Bhathal, ilmuwan dari University of Western Sydney yang melihat sinyal aneh itu pada Desember 2008 -- jauh sebelum diumumkan bahwa ada planet yang bisa dihuni mahluk hidup di orbit bintang cebol, Gliese 581.

Bhathal yang adalah anggota organisasi SETI (search for extraterrestrial intelligence) -- organisasi yang bertujuan membuka kontak dengan kehidupan lain di luar Bumi -- sedang mengamati langit ketika ia menemukan sinyal 'mencurigakan' dari area galaksi di mana Gliese 581g bermukim.

Penemuan ini menguatkan dugaan bahwa Gliese 581g adalah planet paling mirip Bumi yang pernah ditemukan. Adakah kehidupan di sana?

Penemuan Bhathal hanya sebulan sebelum para astronom mengumumkan penemuan planet Gliese 581e yang kurang bisa dihuni (habitable) dibandingkan Gliese581g -- meski keduanya terletak di sekitar bintang yang sama yang jauhnya, sekitar 20 tahun cahaya.

"Kami menemukan sinyal yang tajam, seperti laser yang selama ini kita cari-cari. Itulah yang kami temukan, dan kami sangat bersemangat," kata Bhathal seperti dimuat situsDaily Mail, 1 Oktober 2010.

Berbulan-bulan setelah penemuannya, Bhathal yang punya reputasi sebagai 'pemburu alien dari Australia' menyapu langit untuk mencari sinyal kedua -- untuk mencari tahu apakah fenomena itu adalah nyata atau justru kesalahan instrumen. Sayang, pencariannya tak menghasilkan apapun.

Namun, penemuan planet mirip Bumi di sekitar Gliese 581 - baik 581e dan 581d, membuat imajinasi publik makin liar.

Pembuat film dokumenter, RDF dan situs jejaring sosial, Bebo menggunakan teleskop radio di Ukraina untuk mengirim sinar informasi terfokus -- berisi 500 pesan dari masyarakat dalam bentuk gelombang radio yang dirahkan ke Gliese 581.

Sementara, menteri keilmuwan Australia saat itu mengorganisasi 20.000 pengguna Twitter untuk mengirim pesan ke bintang tetangga jauh Bumi di luar tata surya itu.

Dugaan bahwa benar ada kehidupan di seputar Gliese 581 saat ini dikuatkan oleh pendapat Dr Steven Vogt dari University of California, Santa Cruz. Ia mengaku 100 persen yakin ada kehidupan di planet itu.

Planet Gliese 581g berada di gugus bintang 'Zona Goldilocks' -- sebuah wilayah di angkasa yang kondisinya tak terlalu panas, juga tak terlali dingin bagi cairan yang membentuk laut, danau, maupun sungai.

Planet tersebut juga nampaknya memiliki selubung atmosfer, gravitasi seperti Bumi. Para ilmuwan berpendapat, jika benar, temuan ini adalah pendukung fakta bahwa alam semesta dipenuhi planet yang mirip dengan dunia manusia.

"Jumlah sistem yang diduga memiliki planet yang bisa dihuni mahluk hidup, mungkin sekitar 10 sampai 20 persen. Jika dikalikan dengan ratusan miliar bintang di Bima Sakti, ini jumlah yang besar."

Mungkin saja ada puluhan miliar sistem seperti ini di galaksi kita.

"Secara pribadi, mengingat kecenderungan kehidupan berkembang di mana pun, saya bisa mengatakan bahwa peluang bagi kehidupan di planet ini adalah 100 persen. Aku hampir tidak meragukannya," kata Vogt.


Sumber: VIVAnews.com